Monday, October 22, 2012

Berebut Suara Golput Pilkada Kaltim 2013

Share on :

Berebut Suara Golput Pilkada Kaltim 2013 - ADA baiknya partai politik (parpol) kembali menelaah data angka Pilgub 2008 lalu. Sebab, salah satu ancaman terbesar dalam pesta demokrasi lokal ini adalah angka golput yang relatif masih tinggi. Tak dimungkiri, angka golput dalam tiap pemilihan kerap jadi momok bersama dalam tiap pemilihan umum -- dari tingkat daerah hingga nasional. Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menyosialisasikan pentingnya penggunaan hak suara masyarakat.

Pilkada Kaltim 2008 misalnya. Pada putaran I terdapat 2.299.550 pemilih. Sementara yang menggunakan hak pilih hanya 1.303.874 (56,7 persen). Sisanya 995.703 (43,3) golput. Tak jauh beda dengan Pilkada 2008 putaran II, di mana angka golput mencapai 42,9 persen. Meski menurun, namun tidak signifikan. Ketua KPU Kaltim Andi Sunandar menyebut, dalam pemilihan kepala daerah angka golput selalu tinggi. Inilah tantangan KPU ke depan untuk menekan jumlah golput dalam pemilu-pemilu yang kian dekat.

“Padahal jika hak suara tidak digunakan demokrasi tetap berjalan, atau tanpa kita. Makanya masyarakat harus menggunakan hak pilih. Golput yang tertinggi di kawasan kota, ada beberapa faktor yang menyertainya seperti pasangan yang dicalonkan kalah (saat pemilihan kepala daerah dua putaran),” tuturnya.

Tak hanya KPU yang waswas, sejumlah elit parpol di Kaltim juga. Tingginya angka golput selalu jadi hal prioritas, tiap menghadapi pemilihan umum. Masing-masing partai politik mengklaim sudah punya langkah antispasi.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI-Perjuangan Kaltim Adi Sofyan Alex mengatakan, tingginya angka golput saat pemilu sudah jadi hal umum. Namun tidak semua daerah, tingkat golputnya tinggi. Khusus untuk Kaltim, tingginya angka golput disebabkan beberapa faktor. Antara lain kurangnya sosialisasi kegiatan politik dari pemerintah.

“Saat ini saja, saya belum melihat sosialisasi yang aktif di masyarakat. Padahal tahun depan, Kaltim sudah Pilgub. Selain itu, partai politik juga punya andil meningkatkan atau menurunkan angka golput lewat calon-calon yang mereka diusung,” ucapnya.

Dikatakan Wakil Ketua DPRD Kaltim ini, PDI Perjuangan sudah melakukan beberapa upaya untuk mengambil potensi suara golput di masyarakat, lewat sosialisasi yang dilakukan partai. Makanya, kata dia, pihaknya sudah membuat kepengurusan hingga ke tingkat anak rating di desa.

“Ini upaya kami menjaring suara golput saat pemilu,” terangnya.

Tapi, potensi saura tadi bisa saja lepas, jika calon pemilih sudah tak peduli dengan proses demokrasi yang berjalan. Mungkin mereka merasa, ada tidaknya pemilihan umum, kehidupan tidak akan berubah.

“Kalau pemikiran masyarakat sudah seperti ini, tentu jadi tantangan semua pihak, pemerintah dan partai politik,” ujarnya.

Senada, Masykur Sarmian, ketua DPW PKS Kaltim mengatakan, tingginya angka golput tentu dilatari beberapa faktor, di antaranya animo publik terhadap calon pemimpin. Diakuinya, jika masyarakat sudah tidak memiliki calon pemimpin yang dianggap tepat, tentu tidak akan menggunakan hak pilih.

PKS, kata dia, sudah melihat fakta tersebut. Sehingga upaya yang dilakukan adalah memberikan pendidikan politik pada masyarakat. Saat ini, masyarakat sudah cerdas, jadi calon yang diberikan juga harus yang cerdas dan segar pemikirannya.

“Ini semua untuk membangkitkan minat masyarakat menggunakan hak pilih,” ujarnya.

Sementara Sekretaris DPD Golkar Kaltim Ahmad Albert melihat, fenomena golput selalu hadir tiap pemilu. Namun, bukan berarti angka golput tak bisa ditekan. Menurutnya, golput jadi pekerjaan rumah pemerintah dan partai politik.

“Golkar sudah memberikan pendidikan pada masyakat tentang pentingnya menggunakan hak pilih saat pesta demokrasi. Sebab, masyakat juga yang merasakan hasil pemilihan. Makanya pembelajaran politik pada masyakat, lebih efektif diberikan,” katanya.

Sekretaris Jenderal DPD Partai Demokrat Kaltim Nicolas Pangeran mengatakan, sangat penting jika masyarakat menggunakan hak pilih dalam tiap pemilu.

“Kalau kami di Demokrat sudah menyosialisasikan kepada masyarakat di semua tingkat, bahkan direkrut hingga ke pedesaan melalui kartu tanda anggota,” terangnya.

Ketua DPW PPP Kaltim Rusman Yaqub mengakui, tingginya angka golput mampu mempengaruhi pesta demokrasi.

“Ini yang harus dipahami setiap partai politik. Bagaiman caranya memberikan calon yang tepat di masyarakat dan mampu mewujudkan keinginan yang memilih. Tentunya dengan program dan realisasi yang prorakyat,” kata dia.

Ditulis Oleh : Jaka Tarub // 6:55 AM
Kategori: